Bismillahirrahmanirrahim....
Mari kita simak sebuah kisah tantang salah satu ulama dan para murid nya.
Syeikh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang ulama yang sangat masyhur di masanya. Para siswanya datang dari berbagai lapisan masyarakat, dan beliau memperlakukan mereka semua dengan cara yang sama rata.
Di tempat pengajaran Syeikh Abdul Qadir, ilmu memang diajarkan, namun adab jauh lebih diutamakan. Salah satu adab yang sangat ditekankan adalah adab terhadap guru. Salah satu bentuk adab yang diajarkan adalah cara siswa melayani guru serta upaya meraih keberkahan ilmu.
Terdapat kebiasaan di sana: saat guru sedang makan, tidak ada satu pun siswa yang ikut makan sebelum gurunya selesai. Selain itu, ada tradisi meraih keberkahan ilmu dengan memakan sisa makanan yang telah disantap guru.
Syeikh Abdul Qadir sangat memahami hal ini, sehingga beliau selalu menyisakan sebagian makanannya agar bisa dimakan oleh para siswanya. Suatu ketika, ada seorang tamu yang datang menjenguk anaknya dan melihat hal tersebut. Ia berpikir dalam hati bahwa anak-anak yang belajar pada Syeikh Abdul Qadir diperlakukan dengan tidak pantas.
"Masa siswa diberi makan sisa saja?" gumamnya dalam hati.
Pikiran buruk inilah yang membuat orang tua siswa tersebut datang menghadap Syeikh Abdul Qadir untuk menyampaikan ketidaksetujuannya atas perlakuan sang guru terhadap anaknya.
"Wahai Syeikh, saya mengirim anak saya kepadamu bukan agar diperlakukan demikian, melainkan supaya ia tumbuh menjadi seorang ulama yang berilmu," ujarnya.
"Jika begitu, bawalah pulang anakmu," jawab Syeikh Abdul Qadir dengan singkat.
Tamu tersebut pun mengajak anaknya pulang, sementara sang anak sama sekali tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia harus dibawa pergi. Saat mereka berjalan meninggalkan rumah Syeikh menuju rumah, orang tua itu bertanya kepada anaknya beberapa hal tentang hukum syariat. Ternyata anaknya mampu menjawab dengan tepat dan sangat rinci. Seketika hati si orang tua berubah, lalu ia membawa kembali anaknya kepada Syeikh Abdul Qadir.
"Wahai Syeikh, terimalah kembali anak saya untuk belajar, didiklah ia. Ternyata ilmunya bertambah luar biasa selama berada bersamamu," mohonnya.
Syeikh Abdul Qadir menjawab: "Bukan aku enggan menerimanya kembali, namun Allah telah menutup pintu hatinya untuk menerima ilmu dariku. Allah menutup mata hatinya agar tidak lagi mendapatkan ilmu, hal itu semata-mata karena orang tuanya sendiri yang tidak beradab kepada gurunya."
Ternyata ketidakberadaban orang tua terhadap guru bisa membuat anak-anaknya menjadi korban, kehilangan keberkahan ilmu dari para pengajarnya. Begitulah pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Anak, ibu, ayah, maupun siapa saja wajib menjaga adab terhadap guru.
Sebagaimana sabda para ulama: "Hanya satu prasangka buruk saja kepada gurumu, maka Allah akan mengharamkan seluruh keberkahan yang ada pada gurumu untukmu."
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: percuma kita menyekolahkan anak dengan harapan ia berilmu, namun pada akhirnya ilmu yang didapatnya tidak membawa berkah. Hal itu bisa terjadi karena kita selaku orang tua tidak menjaga adab terhadap guru, sehingga anak-anak pun kehilangan keberkahan dari pengajarnya.
